Nyeri pada Jahitan Operasi Caesar

Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan membuka dinding rahim melalui sayatan pada dinding perut, orang biasa menyebutnya dengan istilah operasi caesar.

Operasi caesar ini dianjurkan untuk proses kelahiran yang sulit, seperti: ketika si bayi dalam kandungan dalam posisi sungsang atau terlilit tali pusar atau ukuran bayi terlalu besar, juga ketika si ibu ternyata tidak cukup kuat untuk melahirkan dan / atau punya masalah dengan kesehatannya. Namun, dewasa ini, ternyata operasi caesar tidak melulu hanya diperuntukkan untuk kelahiran sulit seperti di atas, banyak para ibu yang lebih memilih melahirkan secara operasi dengan alasan, seperti : takut / fobia terhadap proses persalinan, takut terhadap rasa nyeri yang diakibatkan selama masa persalinan, bahkan juga dengan alasan ingin melahirkan pada hari-tanggal-waktu yang ditentukannya sendiri (tentu saja itu tidak masalah, asalkan si bayi dalam kandungan memang telah cukup umur).

Memang melahirkan bayi dengan cara operasi lebih cepat dan mudah, si ibu tidak usah bercapek-capek atau bersakit-sakit. Namun, bukan berarti operasi caesar tidak bercela. Dari hasil riset para dokter di dunia menunjukkan, bahwa melahirkan secara seksio akan memerlukan waktu penyembuhan luka rahim yang lebih lama dari pada persalinan normal.
Selama luka belum benar-benar sembuh, rasa nyeri bisa saja timbul pada luka tersebut. Bahkan menurut pengakuan para ibu yang melahirkannya menggunakan prosedur operasi, rasa nyeri memang kerap terasa sampai beberapa hari setelah operasi.
Kami anjurkan agar para ibu yang habis dioperasi agar rajin check-up ke dokter untuk memastikan jahitan-jahitan benar telah tertutup dan tidak terjadi infeksi lanjutan.

Ibu yang melahirkan bayi dengan seksio juga dianjurkan untuk tidak mengandung kembali kurang dari 18 bulan dari tindakan seksio, karena mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya robekan rahim, seperti menurut analisa Dr. Thomas D. Shipp dari Sekolah Kedokteran Harvard di Boston – Massachusetts, AS bersama rekan-rekannya. Menurut mereka, perempuan yang melahirkan kembali dalam kurun waktu 18 bulan setelah operasi caesar, kemungkinan rahimnya robek (ruptur uteri) adalah sebesar tiga kali lipat dibandingkan mereka yang menunggu lebih lama sebelum melahirkan kembali. Hal ini karena belum selesainya penyembuhan luka rahim karena operasi seksio pertama.